Kembali insomnia ini datang tiap jumat malam menjelang sabtu dini hari. Dan kembali alarm yang terpasang masih terlelap ketika kau terbangun. Tapi perasaan lebih ringan kali ini. Anak-anak kutinggalkan tanpa rasa was-was dan perjalanan pagi ini sangat lancar didukung pagi yang lembut mengiringi perjalanan menembus kerimbunan hutan jati. Persiapan juga lebih mudah karena telah tahu situasi kelas yang akan dihadapi.
Menyapa mereka, 23 siswa yang kudampingi dan jumlah siswa yang hampir komplit mengenapi seluruh siswa kelas XII, meskipun masih 2 lagi yang belum penah kutemui hingga 2 pertemuan ini.
Kelas kuawali dengan menanyakan kabar dan perubahan apa yang mereka rasakan setelah mengikuti kelas motivasi minggu lalu.
Menyapa mereka, 23 siswa yang kudampingi dan jumlah siswa yang hampir komplit mengenapi seluruh siswa kelas XII, meskipun masih 2 lagi yang belum penah kutemui hingga 2 pertemuan ini.
Kelas kuawali dengan menanyakan kabar dan perubahan apa yang mereka rasakan setelah mengikuti kelas motivasi minggu lalu.
Seperti minggu lalu, masih banyak keengganan untuk menjawab dan berinteraksi, meskipun pada anak tertentu keakraban mulai muncul. Pendapat singkat dilontarkan, meskipun harus dipancing dengan beberapa pertanyaan agar mau berbicara. Sempat terkejut, ketika beberapa anak terdiam dan bahkan mengatakan : tidak merasakan apa-apa!.. dalam hati berkata, ya ampun.. berarti cuma aku yang termotivasi oleh diriku sendiri pada kelas minggu lalu .. hehe ..
Tiba pada giliran seorang siswa ketika ditanya apa yang kamu rasakan setelah mengikuti kelas minggu lalu, Ia menjawab : “ sejak kemarin sampai sekarang, tiap hari saya masuk sekolah. Dengan heran bertanya, apa yang aneh dengan masuk sekolah tiap hari?... Ternyata, dalam seminggu ia bisa 2 atau 3 kali membolos. ( yg ini mah kebangetan.. maleeees bangeett… ). Keharuan menyeruak, paling tidak ada yang merasakan dampak positif dari pelajaran minggu lalu, Perubahan itu meskipun belum nyata, tapi ada!
Setelah diamati, ternyata tingkat motivasi dan semangat belajar mereka terutama di kelas IPS memang memprihatinkan. Para siswa kelas IPA yang sejumlah 7 anak lebih menonjol dalam beberapa hal.. Mereka lebih kompak, bersemangat dan cekatan.
Tiba pada giliran seorang siswa ketika ditanya apa yang kamu rasakan setelah mengikuti kelas minggu lalu, Ia menjawab : “ sejak kemarin sampai sekarang, tiap hari saya masuk sekolah. Dengan heran bertanya, apa yang aneh dengan masuk sekolah tiap hari?... Ternyata, dalam seminggu ia bisa 2 atau 3 kali membolos. ( yg ini mah kebangetan.. maleeees bangeett… ). Keharuan menyeruak, paling tidak ada yang merasakan dampak positif dari pelajaran minggu lalu, Perubahan itu meskipun belum nyata, tapi ada!
Setelah diamati, ternyata tingkat motivasi dan semangat belajar mereka terutama di kelas IPS memang memprihatinkan. Para siswa kelas IPA yang sejumlah 7 anak lebih menonjol dalam beberapa hal.. Mereka lebih kompak, bersemangat dan cekatan.
Sementara di kelas IPS, membolos, tidur di kelas, mengacuhkan guru dan main HP ketika pelajaran rupanya sudah menjadi kebiasaan dan tradisi.
Dan seperti perkiraan minggu lalu, ternyata mendampingi 23 anak jauuhhh lebih suliit dibandingkan 16 anak. Lebih sering mereka berbicara atau bercanda sendiri ketika teman yang lain berbicara. Sementara aku berjalan kesisi yang kiri, mereka yang duduk di sisi kanan asyik dengan percakapan dan gurau mereka sendiri.
Dan seperti perkiraan minggu lalu, ternyata mendampingi 23 anak jauuhhh lebih suliit dibandingkan 16 anak. Lebih sering mereka berbicara atau bercanda sendiri ketika teman yang lain berbicara. Sementara aku berjalan kesisi yang kiri, mereka yang duduk di sisi kanan asyik dengan percakapan dan gurau mereka sendiri.
Lebih memprihatinkan lagi ketika dalam kerja kelompok seorang anak lebih memilih diam tak beranjak dari posisinya ataupun sekedar ingin tahu dan perduli dengan apa yang dilakukan teman-teman yang ada disebelahnya. Sayang sekali…
Kali ini mereka mengidentifikasi diri mereka dengan membuat ‘potret diri’ yang berisi tentang apa kelebihan/potensi, kekurangan/ hambatan, apa tujuan mereka dan apa yang harus dilakukan/ komitmen untuk mencapai tujuan. Selanjutnya mereka diajak untuk membuat menara sedotan untuk mengasah kekompakan dan kerjasama sekaligus mengasah kemampuan mereka berbicara di depan umum ketika harus mempresentasikan hasil karyanya. Mengharukan, ketika seorang anak yang sejak awal terlihat pasif dan biang bolos, dalam kerja tim menunjukkan ketrampilan dan kecekatannya.
Kali ini mereka mengidentifikasi diri mereka dengan membuat ‘potret diri’ yang berisi tentang apa kelebihan/potensi, kekurangan/ hambatan, apa tujuan mereka dan apa yang harus dilakukan/ komitmen untuk mencapai tujuan. Selanjutnya mereka diajak untuk membuat menara sedotan untuk mengasah kekompakan dan kerjasama sekaligus mengasah kemampuan mereka berbicara di depan umum ketika harus mempresentasikan hasil karyanya. Mengharukan, ketika seorang anak yang sejak awal terlihat pasif dan biang bolos, dalam kerja tim menunjukkan ketrampilan dan kecekatannya.
Ketika hal itu kuungkapkan, bahwa kamu sebetulnya kreatif dan cekatan, sekilas kulihat perubahan di wajahnya. Bahkan ketika kutantang untuk membuat komitmen tidak membolos lagi sampai ujian akhir, dia menyatakan bersedia dan seketika keharuan menyergap diriku.
Dalam pertemuan kali ini terbentuk kelompok belajar yang bertujuan memotivasi mereka untuk saling membantu dalam kerjasama positif menghadapi Unas.
Mereka menyadari bahwa musuh utama mereka adalah rasa malas yang membawa rentetan sikap-sikap lain seperti mengacuhkan pelajaran dan lebih memilih untuk sibuk dengan dunia mereka dan gurauan dibandingkan mendengarkan penjelasan guru.
Hal itu memberikan ide tentang apa yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya.Ya.. mereka perlu pemahaman tentang karakter positif yang harus dikembangkan serta meningkatkan sikap peduli hingga mereka lebih bertanggungjawab terhadap diri mereka sendiri.
Secara keseluruhan, kelas berlangsung cepat karena persiapan juga lebih matang, tapi terasa lebih sulit untuk mengendalikan dan menggerakkan motivasi mereka. Mungkin karena jumlah siswa lebih banyak serta siswa lebih beragam kemampuannya. Sementara itu…salut bagi anak-anak IPA untuk ketekunan mereka.
Hal itu memberikan ide tentang apa yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya.Ya.. mereka perlu pemahaman tentang karakter positif yang harus dikembangkan serta meningkatkan sikap peduli hingga mereka lebih bertanggungjawab terhadap diri mereka sendiri.
Secara keseluruhan, kelas berlangsung cepat karena persiapan juga lebih matang, tapi terasa lebih sulit untuk mengendalikan dan menggerakkan motivasi mereka. Mungkin karena jumlah siswa lebih banyak serta siswa lebih beragam kemampuannya. Sementara itu…salut bagi anak-anak IPA untuk ketekunan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar