Rabu, 04 Februari 2009

PASAR

Pasar kota Blora, tepatnya satu sudut di belakang bangunan itu telah menjadi tempat istimewa bagiku. Bukan hanya karena sahabatku tinggal disitu dan membuka lapak yang menjual aneka peralatan dapur dan pisau persis di belakang pintu pasar, hingga tiap orang yang lalu lalang akan keluar masuk dari pintu pasar bagian belakang, akan melewati tempat dagangannya. Juga karena aktifitas yang kulakukan disana ternyata telah menemaniku melewati hari-hari.

Saat resah akan masalah, jenuh, menghindar atau sekedar mencari makanan pengisi perut semua bisa diatasi dengan meninggalkan rumah dan lari ke… pasar. Ketika galau, ternyata hanya sekedar duduk dan mengamati orang lalu lalang berbelanja dan pedagang yang menawarkan dagangannya, telah membuat aku melupakan kegelisahanku. Mendengar percakapan antar pedagang yang menjual dan pembeli yang menawar, Penjual kacang panjang yang ketika siang mulai gelisah, dan dengan kacang panjangnya yang lemas seperti habis mengikuti perlombaan maraton itu digendong kian kemari dan ditawar-tawarkan dengan harga murah. Atau bapak tua penjual ikan yang juga berkeliling turun dari tahta kiosnya, yang selalu memaksaku membeli dagangannya karena sang ikan ternyata juga telah ikut lari marathon juga.

Penjual kacang goreng yang duduk berjajar, menjual dagangannya diatas ‘tampah’ yang diletakkan di atas keranjang anyaman bambu yang disebut ‘dunak’ selalu menimbulkan gairah karena aku adalah penggemar kacang yang digoreng dengan kulitnya sekaligus dan tanpa menggunakan minyak goreng itu. Ya kacang itu digoreng dengan menggunakan pasir, cara tradisional sekaligus ide cemerlang nenek moyang kita.
Lalu tiga orang penjual jajan pasar seperti : getuk, gemblong dan tiwul, yang duduk di dingklik pendek di sepanjang tangga pintu pasar itu lebih menyerupai induk ayam yang mengerami telur-telurnya, dengan obrolan-obrolan ringan khas perempuan, sementara tangan-tangan mereka tak pernah lelah bergerak dengan gerakan memotong, memarut atau membungkus.

Bermacam jenis orang kutemui ketika duduk menghadap pintu pasar ini. Yang besaar dengan ukuran extra, yang kecil, kurus hingga paling cantik. Yang berdandan aneh, waria, pengemis, pengamen hingga copet!. Diam-diam terbentuk hubungan kekerabatan yang dekat diantara para pedagang disana dan betapa mereka adalah perempuan-perempuan tangguh yang mempertahankan roda rumah tangganya dengan meninggalkan rumah sejak dini hari dan mengadu keberuntungan dengan berdagang di tempat yang bernama : Pasar.

Hal lain yang menyenangkan adalah segala jenis makanan dan jajanan ada, dengan harga yang sangat murah. Hanya berbekal lembaran ribuan, perut akan kenyang sedang lembaran-lembaran itu terasa tak ada habisnya. Sepiring nasi sayur bayam dan sambal cukup seribu rupiah, es teh lima ratus, aneka jajanan limaratus dan bubur sunsum cukup lima ratus rupiah saja. Perut kenyang dengan aneka menu !

Saat hati ini gelisah atau bosan di rumah, datang ke pasar, duduk menghadap pintunya, mengisi perut, lalu berjalan masuk kepasar, berkeliling di antara penjual aneka hasil bumi khas seperti waluh, pare, gembili atau berjalan ke los penjual ikan laut sekedar melihat-lihat. Tak heran para penjual itu mungkin jengkel karena aku hanya akan berjalan melihat-lihat dagangannya sementara mereka berusaha sepenuh hati menarik minatku untuk membeli. Atau mungkin menganggap aku pembeli pelit karena selalu menawar di bawah harga tanpa pernah membeli dagangan mereka, karena memang tujuanku kesana bukan berbelanja melainkan menjalankan terapi penghilang stress.. hahaha… Dan ajaib setelah kenyang dan bosan, aku akan pulang ke rumah, …dengan perasaan ringan!

Hiruk pikuk pasar, aneka jajan pasar, hasil bumi, hasil laut ternyata tersimpan rapi di ingatan dan kelak menjadi suatu yang dirindukan ketika 2 bulan aku meninggalkan Blora dan tinggal di Jakarta. Ada kesadaran muncul bahwa pasar tradisional memiliki tempat khusus di hatiku dan ternyata keberadaannya telah mengalahkan pesona supermarket yang sejuk dan berlantai ubin sekalipun.
Ingin menikmati pesona pasar??... Cobalah, dan temukan bahwa dimanapun bahkan di tempat yang paling becek dan kotor sekalipun akan selalu ada hal-hal menarik bila dicermati dan akan menjadi teman melewatkan hari-hari.

Tidak ada komentar: