Selasa, 03 Februari 2009

Kelas Motivasi Pertama

Sabtu, 31 januari ’09 adalah kelas motivasi pertamaku. Kepercayaan besar diberikan oleh pihak SMU St Louis Cepu dengan menyerahkan siswa kelas III untuk menjadi kelinci percobaanku. ( tanpa kemampuan memadai dan materi yg coba-coba, bukankah namanya kelas percoban?, Hehe… )
Gemericik hujan sejak semalam belum juga berhenti hingga pukul 6 pagi ini. Dengan perasaan was-was takut bangun kesiangan sebelum tidur menjelang dini hari semalam, alarm kupasang pada angka 05.30. Rupanya perasaan campur aduk sehubungan dengan kelas pertama ini tersimpan di bawah sadar hingga tidurpun tak juga nyenyak dan alarm akhirnya tidak diperlukan karena aku telah bangun mendahului bunyinya.
Perasaan kuatir karena meninggalkan anak-anakku sebelum mereka berangkat sekolah juga apakah mereka nanti akan menyantap sarapannya, datang silih berganti menghantui. Akhirnya ditengah rintik hujan, berkendara menuju cepu dan tiba tepat 10 menit sebelum bel tanda masuk sekolah berbunyi.

Dengan membawa tas ransel dan kertas gulungan besar untuk materi nanti, sambil berpayung dibawah tirai hujan, mudah-mudahan tidak seperti tentara romantis membawa jatah ransumnya. Bapak kepala sekolah menyambut dan mempersilahkan masuk kedalam kelas dengan kata-kata mohon pemakluman : “karena hujan, biasanya murid-murid datang agak terlambat”, penuh senyum kujawab “ tidak apa pak, nanti bisa kita tunggu”.

Memasuki ruang kelas, beberapa anak sudah hadir, dan sambil menunggu kami mengatur susunan meja kursi dan menyiapkan peralatan serta materi dari dalam tas yang kubawa. Kesadaran muncul ketika hampir tidak ada lagi yang dikerjakan, sementara kelas terasa begitu longgar karena hanya diisi….. 13 siswa dan diriku!

Seluruh murid di SMU ini ada 80 orang dan murid kelas XII berjumlah 7 anak di kelas IPA dan 18 anak untuk kelas IPS. Dari 25 siswa kelas XII itu, saat ini hanya 13 anak yang ada dihadapanku . Seperti tersadar bahwa hanya inilah yang ditakdirkan menjadi bahan percobaanku hari ini, segera kukuasai keadaan dan mulai menyapa mereka ramah.
Terdengar suara menghibur di hatiku, bukankah ini makin menyatakan kebenaran bahwa sekolah ini perlu pemotivasian karena memang kondisinya sedang menurun, dan paling tidak mengajar 13 anak akan lebih mudah daripada 25 anak. Masih sempat kulihat sekilas di jendela, bapak kepala sekolah berpayung di pintu gerbang sambil memandang ke jalan, mungkin berharap ada siswanya yang berlari di ujung jalan mengejar bel sekolah hingga ia tidak terlalu malu karena hanya mempersembahkan 13 anak kepadaku pagi ini. Dalam hati tersenyum, pasti akan jadi adegan yang lebih dramatis dari film Laskar Pelangi karena ada scene berpayung di bawah rintik hujan, menunggu di gerbang sekolah. Hahaha…..

Kelas dimulai dengan perkenalan dan permainan kreatifitas. Terasa begitu lambat dan sulit untuk mencairkan suasana karena mereka seperti enggan menyampaikan ide-idenya. Lebih banyak yang terdiam dan enggan menjawab. Perlu kesabaran dan dan pemakluman dengan mendorong tiap anak, seperti menggerakkan gilingan berkarat yang lama tak mengenal olie, sebelum akhirnya pelan-pelan suasana mulai cair dengan ditandai permainan yang mulai bergulir dinamis. Nasib baik rupanya masih berpihak padaku, 3 anak lagi datang setengah jam sejak jam pelajaran dimulai,hingga menggenapi jumlah mereka menjadi 16 orang.

Berikutnya suasana menjadi lebih hangat karena celetukan nakal dan lelucon khas remaja mulai terdengar disana sini. Dan pelan-pelan pendapatku tentang mereka berubah, sebenarnya mereka bukan anak yang pasif, diam, atau malas. Hampir semua kurasakan mempunyai semangat dan ini adalah modal untuk kelas motivasi ini. Beberapa anak memang agak pendiam, tapi ketika diminta mengungkapkan pikiran dalam bentuk kalimat tertulis, mereka bisa menuangkannya dengan baik dan dalam kalimat yang panjang. Beberapa bahkan diluar perkiraanku.

Hangatnya semangat yang membara mulai terasa ketika di akhir kelas, mereka diminta untuk membuat pohon harapan dan menuliskan buah-buah harapan mereka. Kerjasama yang bagus tercipta, kreatifitas dan semangat makin terasa ketika mereka bekerja sama mengerjakan dan menempelkannya erat-erat di dinding kelas mereka. Mudah-mudahan semangat ini membawa perubahan hingga pertemuan minggu depan, sambil aku berpikir keras materi apa yang akan kuberikan minggu depan (Bersambung…)

Tidak ada komentar: